ID-Malware Summit II: Kurangnya Kesadaran Netizen Indonesia Akan Keamanan di Internet

sumber: pixabay.com

Menurut hasil survey APJII, jumlah pengguna Internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia. Indonesia menempati posisi 6 pengguna Internet di dunia. Sementara berdasarkan konten yang dikunjungi 62% dari pengguna internet Indonesia (atau 82,2 juta) sering mengunjungi web onlineshop. Untuk konten media sosial, 54% pengguna internet Indonesia sering mengunjungi Facebook.

Sayangnya pertumbuhan pengguna intenet di Indonesia ini, belum didukung dengan adanya tingkat kesadaran akan keamanan internet. Di antara berbagai ancaman keamanan di Internet yang sering muncul adalah Identity theft. Di Indonesia banyak pengguna social media maupun e-commerce yang menjadi korban identity theft. Namun pengguna umumnya belum memahami bagaimana cara melaporkan insiden identity theft ini. Untuk itu ID-CERT memandang perlu diadakan edukasi kepada pengguna internet di Indonesia mengenai bahaya Identity theft ini.

Sekitar 63,1 juta pengguna Internet di Indonesia menggunakan perangkat smartphone. Semakin banyak pengguna yang menggunakan smartphone tidak hanya untuk membaca berita tapi juga untuk melakukan transaksi ecommerce dan online banking. Sementara itu jumlah Smartphone malware juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 saja, Kaspersky menemukan 884.774 sampel mobile malware baru dan 7030 sampel trojan mobile banking baru. Selain itu terjadi juga peningkatan kasus mobile Ransomware. Menurut International Data Group, 74% kasus keamanan yang dilaporkan perusahaan pada tahun 2015 adalah kasus Ransomware. Kemudian ada juga ancaman mobile spyware, MMS malware, Mobile Adware dan SMS Trojan. Untuk itu pada pertemuan ini kami mengundang para pakar keamanan tanah air untuk memaparkan bagaimana sebenarnya perkembangan terkini ancaman malware pada Smartphone ini.

Februari 2017, Kaspersky melaporkan 140 perusahaan di 40 negara mengalami serangan Fileless Malware. Serangan ini menyerang sektor perbankan, pemerintahan dan industri Telekomunikasi di Amerika Serikat, Prancis, Ekuador, Kenya, Inggris, dan Russia. Serangan Fileless Malware ini sangat sulit dideteksi karena tidak meninggalkan sampel malware di Harddisk korban. Semua aktifitas malware dijalankan dalam memori (RAM). Pada pertemuan ini dibahas tentang ancaman Fileless Malware ini, bagaimana serangan Fileless malware ini dijalankan dan bagaimana cara pencegahan yang dapat dilakukan.

Semakin besarnya ancaman keamanan di Internet ini sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Diperlukan adanya segera gerakan bersama dari komunitas maupun penggiat Internet di Indonesia untuk bersama-sama menangani permasalahan keamanan Internet ini.

cert.id

You may also like...