Data Adalah Mata Uang Yang Baru

Riwayat panggilan telepon adalah sebuah miniatur dari tambang emas data. Dua orang berbicara di ponsel berfikir bahwa mereka hanya sedang melakukan percakapan sederhana, tetapi selama mereka berbicara, data-data mereka sedang dikumpulkan seperti lokasi mereka, waktu dan durasi panggilan mereka, dan mungkin kegiatan lain yang sedang mereka lakukan dengan perangkat digital lainnya.

Menurut Joann Stonier, seorang praktisi privasi global dan petugas proteksi data untuk MasterCard Worldwide, isi dari percakapan itu penting. Tapi metadata, data tentang data yang menjadi perhatian berbagai pihak. “Ini adalah mata uang yang berbeda,” katanya. “Data adalah bentuk baru dari pertukaran (uang).” Dimanapun kita berada, kita meninggalkan “jejak digital,” kata Stoner, dan semua orang sedang “berputar melalui ribuan bit data untuk mencari tahu apa penawaran berikutnya yang akan diberikan kepada kita, dan suatu waktu, konten anda dan pengalaman (memakai konten digital) mulai untuk dikelola.” Stonier tidak suka dikendalikan, sehingga pada MasterCard, ia bekerja untuk memastikan bahwa perusahaan mempertahankan hubungan yang terbuka dan hormat dengan data pelanggan.

“Pekerjaan saya adalah menjadi suara bagi tiap individu,” katanya. “Kami selalu memulai dengan individu. Apakah yang akan pelanggan atau pemegang kartu akan alami? Apa yang akan mereka lihat? Apakah mereka mengerti apa yang kita lakukan? itulah yang mendorong banyak keputusan kami.”

Privasi memiliki spektrum sensitivitas sendiri, catat Stonier. Beberapa orang tidak keberatan berbagi segalanya. sebagian yang lain tidak nyaman membeberkan informasi tentang dirinya meskipun sedikit, dan sebagian besar berada di antara keduanya. Sangat sulit untuk menemukan keseimbangan yang tepat. Tapi dia mengatakan bahwa seseorang memiliki hak untuk tahu data apa yang sedang dikumpulkan tentang mereka dan bagaimana informasi mereka digunakan.

Ketika kita mengklik “Setuju” pada pernyataan privasi di internet kita tidak selalu mengerti apa hasil dari data-data yang disimpan. Dan perusahaan yang membuat profil data tentang kita bisa saja salah. Bahkan orang-orang yang ingin menjadi proaktif untuk mengelola data mereka sendiri sering menyerah. Stonier mengatakan: “Kebanyakan orang sepertinya sadar bahwa seseorang melakukan sesuatu, tetapi kebanyakan dari mereka menyerah karena terlalu sulit untuk mengetahui bagaimana cara mempengaruhi atau mengubah keputusan yang dibuat.”

Meskipun petugas privasi seperti Stonier telah bekerja selama hampir dua dekade, dia mengatakan bahwa gelombang big data memperluas perannya dalam “ruang tak tertulis” di mana “hukum baru sedang ditulis sekarang.”

Dan hukum-hukum yang ada bisa sangat tidak cocok karena hukumnya sudah ketinggalan jauh oleh teknologi. Selanjutnya, Stonier mengatakan tumbuh ketegangan antara menggunakan e-commerce dan inovasi sekaligus melindungi privasi individu. “Undang-undang terkadang bisa sangat menyulitkan bisnis untuk berinovasi, tetapi mereka tidak selalu memberikan perlindungan terhadap individu,” jelasnya. “Ketika regulator berpikir tentang hukum yang mengatur data, mereka berpikir tentang data perusahaan besar seperti Google, Facebook, Apple, dan Amazon, tapi tantangannya adalah bahwa hukum berlaku untuk semua orang, termasuk toko daging di jalan.”

Sebagai seorang praktisi privasi global, Stonier terus mengikuti perkembangan hukum tentang data di setiap wilayah di dunia, membantu MasterCard dalam mengembangkan kebijakan dengan negara-negara yang memiliki pengertian budaya yang sangat berbeda tentang privasi dan peran pemerintah dalam melindungi itu.

Amerika Serikat adalah “outlier” dalam menangani masalah privasi karena tidak memiliki hukum privasi yang komprehensif, katanya, tetapi pemerintah lainnya mulai mengerahkan energi mereka untuk mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif untuk melindungi privasi warga negara mereka: “Banyak negara ingin menjadi bagian dari perdagangan digital. Mereka menginginkan jenis perdagangan yang seperti itu untuk ekonomi mereka dan mereka sadar akan fakta bahwa data adalah bisnis besar dan ada kebutuhan yang muncul untuk melindungi informasi pribadi warga negara mereka. ”

Selama Stonier berpacu untuk berurusan dengan back-end dari masalah privasi dalam konteks perdagangan global, ia yakin kebutuhan untuk mengatasi masalah itu di awal pada tingkat desain. Dia mengajarkan bisnis internasional dan strategi bisnis dalam program pascasarjana Desain Manajemen di Pratt Institute, di mana ia mendorong mahasiswa pascasarjana untuk memperhatikan privasi pengguna ketika mereka mengembangkan produk digital dan jasa.

“Desain adalah kemampuan untuk mengambil hal-hal yang tidak dikenal atau didefinisikan kemudian mendefinisikannya,” katanya. “Masalahnya adalah tidak ada yang tahu bagaimana cara yang terbaik untuk mendefinisikan privasi.”

Berpikir tentang bagaimana memperlakukan data adalah sebuah pintu untuk informasi baru, Stonier berkata. “Privasi adalah bagian berkeberlanjutan dari semua itu.” Tapi dia memperingatkan: “Kita kehabisan waktu. Apa yang kita putuskan hari ini akan menciptakan masa depan.”

(businessinnovationfactory)

You may also like...