4 Soft Skill Yang Perlu Kamu Asah

Business Meeting (Pixabay)

Apakah kamu lebih menyukai rekan kerja atau manajer yang bersikap selayaknya seorang pemimipin atau seorang pakar sejati dengan pengetahuan dan pengalaman yang hebat? Tapi bukankah banyak dari kita semua yang tidak sejalan dengan rekan atau tim kerja? Atau apakah kamu lebih suka bekerja berdampingan dengan kolega atau pemimpin yang berpengalaman yang kolaboratif, inovatif, kuriositas (ingin belajar/rasa ingin tahu), ramah dan menyenangkan? Bagi kebanyakan orang jawabannya adalah ya.

“Saya ingin rekan kerja atau pemimpin yang bisa mengarahkan dan membimbing, pengetahuan dan keterampilan bisa kita pelajari bersama.”

Kabar baiknya adalah, jika kamu pikir kamu termasuk dalam kategori pertama (cukup kecerdasan dan pengalaman, tapi tidak memiliki jiwa kepemimpinan), kamu bisa mengubahnya. Kami (Dave Sturt & Todd Nordstrom) bertemu orang-orang seperti ini setiap saat. Dan, seringkali sulit bagi mereka untuk meminta bantuan terkait dengan “soft skill yang mereka miliki.” Meskipun demikian, kami telah menemukan empat soft skill yang dibutuhkan untuk membuat orang merasa nyaman dan membuat mereka mempercayaimu di tempat kerja – dan sisi plusnya kamu dapat menjaring pertemanan yang lebih luas. Punya teman baik dengan jumlah banyak tentunya lebih menguntungkan daripada mencari musuh. Ditambah lagi meningkatkan produktivitas, dan berinovasi dalam waktu singkat.

Mendengarkan

“Dengarkan dulu, bicaralah kemudian.” Jadilah pendengar yang baik. Salah satu bentuk penghormatan yang paling tulus sebenarnya adalah mendengarkan apa yang orang lain katakan. “Kamu belajar saat kamu mendengar.” Jika kamu pernah mendengar wejangan ini, kamu pasti dapat memahami pentingnya hal ini. Tapi jika kamu adalah tipe orang yang mencatat saat orang lain bicara, ada baiknya kamu berhenti menulis dan mulai mendengarkan. Saat rekan kerja berkomunikasi denganmu, beri mereka perhatian penuh, singkirkan gadgetmu dan perhatikanlah. Tanggapi hanya setelah kamu mendengar semua yang ingin mereka katakan. Ketika pendengaran menjadi prioritas, masalah yang sebelumnya kamu takutkan seperti panik, ragu untuk mengutarakan pendapat mulai perlahan-lahan hilang. Karena mendengarkan dengan fokus mengembangkan empati dan memberi pengertian dalam situasi apapun.

Komunikasi Nonverbal

Sebagai komunikator atau sebagai pemimpin yang baik, gaya komunikasi menentukan arah bagi tim. Penting untuk bersikap jelas, ringkas, dan hormat saat kamu berbicara atau bahkan menulis email. Namun isyarat nonverbal yang kamu tunjukkan adalah bagian penting dalam berkomunikasi yang baik. Ekspresi wajah, postur tubuh, gestur dan kontak mata, merupakan hal-hal yang penting diperhatikan – dan hal-hal ini sangat berarti saat kamu berinteraksi. Pastikan bersikap positif, sopan, dan hormat dalam interaksi tatap muka. Menurut kata pakar, Darlene Price (Penulis “Well Said!) ketika bahasa tubuhmu bertentangan dengan kata-katamu, maka teman bicaramu hanya mempercayai isyarat nonverbal yang kamu tunjukkan. Sebagai contoh kamu menceritakan suatu kisah sedih, tapi raut wajah dan gesturmu malah seperti seorang komedian, ya lawan bicara jadinya kurang respek dan tidak fokus karena kamu tidak tulus menyampaikan isi cerita yang ingin kamu bagikan. Jadi, jaga agar sikap tetap fokus, dan ya kamu tidak boleh menyilangkan lengan kalau kamu gugup (bisa-bisa kamu dinilai sok tau, “menggurui”), minimal jangan sampai kamu tampil sebagai orang yang tidak tertarik dengan topik yang dibawakan, dan jangan kasar dalam menyampaikan maksud dan tujuanmu.

Menghadapi Perubahan

Kamu tahu gak, satu-satunya yang konstan dalam hidup adalah perubahan, jadi mengapa begitu sulit untuk bertindak ketika sesuatu tiba-tiba bergeser di tempat kerja? Entah itu teman kerja yang resign atau ada staf yang baru mulai masuk, pimpinan baru, pindah ke gedung kantor baru, ya perubahan boleh jadi sulit dinavigasi. Saran teratas kami adalah tetaplah melihat kedepan, ajukan pertanyaan agar kamu mengerti situasi. Jangan malu meminta bantuan dari teman atau rekan kerja saat kamu merasa terbebani dan kewalahan. Dan bersabarlah, karena menyesuaikan diri dengan situasi baru mungkin akan memakan sedikit waktu. Jika kamu adalah seorang team leader yang perlu mengubah haluan arah perusahaan, jangan menekan timmu, bersabarlah dan cari referensi apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Ucapkan terima kasih

Nah, ini poin utama yang seringkali dlupakan atau dianggap tidak terlalu penting. Ya, kamu pasti sudah bosan membaca yang satu ini, tapi mengucapkan terima kasih sungguh sangat berarti. Ketika kamu berkomunikasi dengan dengan seorang anggota tim, rekan kerja, atasan bahkan seorang office boy, mereka semua berhak (termasuk kamu) mendapatkan ucapan terima kasih untuk menghargai usaha mereka atau prestasi besar, hal ini menunjukkan bahwa kamu mempunyai nilai lebih dari sekedar profesionalisme. Kamu juga mengkomunikasikan kebaikan, memberi semangat tim, dan meningkatkan motivasi pekerja dalam berinovasi, dan melakukan hal yang tidak monoton. Tim yang kamu pimpin, tentunya akan tumbuh kuat, lebih bahagia dan puas dengan pekerjaan mereka, dan karena situasi ini membawa profit bagi perusahaan. Ini merupakan kemenangan, bukan? Jadi, jika kamu tidak cukup berterima kasih (dan ya, riset menunjukkan kebanyakan orang tidak sadar atau lupa mengenai ini). Maka mulailah berlatih untuk menghargai apa yang ada di sekitar kita.

Keahlian atau keterampilan teknis yang dimiliki mungkin jadi faktor ketika kamu mendapatkan pekerjaan yang kamu hadapi saat ini, namun soft skill yang telah diuraikan di atas adalah hal yang membentuk persahabatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam bekerja. Tetaplah mencoba dan mengasah 4 ketrampilan sederhana ini yang juga krusial dalam membangun karier kamu. Dan jangan kaget ketika 4 hal sederhana ini juga menolongmu dalam kehidupan diluar pekerjaan. Sukses terus ya.

Artikel ini ditulis oleh David Sturt & Todd Nordstrom dan diterbitkan di Forbes.

You may also like...